Pengembangan Software dan Sistem informasi

  1. 1. Apa yang membedakan pengembangan software dengan pengembangan sistem informasi? Jelaskan.

Jawaban :

Menurut James Martin Perkembangan software adalah proses dalam analisa, perancangan dan implementasi penggunaan teknologi informasi. Sedangkan pengembangan sistem informasi adalah tahapan proses yang diawali pendekatan sistem informasi, proses analisa, perancangan dan implementasi penggunaan teknologi informasi.

  • Adapun pentingnya pengembangan software adalah :

a. Keterlambatan penyampaian produk :

  • Tidak sesuai dengan spesifikasi , bahkan salah
  • Menafikan aspek non teknis
  • Software berukuran besar, dikembangkan oleh team dari berbagai disiplin, secara terus menerus produk dapat mengalami perubahan sepanjang pengembangan dan setelah instalasi

b. Karena adanya Permasalahan didalam Perangkat Lunak dan Pengembangannya :

  • Krisis perangkat lunak.
  • Biaya perbaikan kesalahan yang meningkat sejalan dengan tahapan pengembangan.
  • Biaya pemeliharaan perangkat lunak yang besar.
  • Keterlambatan dan kekurangan biaya.

Adapun usaha untuk mengatasi permasalahan dalam perangkat lunak dilakukan adalah melalui Rekayasa Perangkat Lunak atau Software Engineering.

Rekayasa Perangkat lunak didefinisikan sebagai penerapan pengetahuan keilmuan secara praktis dalam perancangan dan pengembangan program dan dokumentasi terkait yang diperlukan untuk mengsembangkan, mengoperasikan dan memelihara program-program tersebut. Fungsi dari rekayasa pernagkat lunak antara lain :

–        Menentukan tahap-tahap yang diperlukan untuk pengembangan perangkat lunak.

–        Menentukan urutan pelaksanaan dari tahap-tahap tersebut dalam rangka pengembangan perangkat lunak.

–        Menentukan kriteria transisi/perpindahan dari satu tahap ke tahap berikutnya.

Beberapa aktivitas yang dilakukan dalam Rekayasa perangkat lunak :

  • Pengembangan perangkat lunak (software development).
  • Manajemen proyek (project management).
  • Metrik perangkat lunak (software metric).
  • Pemeliharaan perangkat lunak (software maintenance).
  • Jaminan kualitas perangkat lunak (software quality assurance).
  • Manajemen konfigurasi perangkat lunak (software configuration management).

–         Pengembangan perangkat lunak

  • Proses perangkat lunak (software process)
  • Metodologi perangkat lunak (software methodology).

Sedangkan pengembangan sistem informasi mempunyai peranan yang sangat penting untuk menunjang suksesnya sebuah bisnis. Dalam sebuah perusahaan, pengembangan sistem informasi dikategorikan dalam Sistem Informasi Manajemen. Adapun pendekatan pengembangan sistem informasi meliputi perumusan masalah, pengembangan berbagai alternatif solusi, pemilihan solusi terbaik, disain solusi terbaik dan implementasi solusi atau disebut juga

SDLC (System Development Life Cycle).

Kemudian pengembangan sistem informasi merupakan bagian dari manajemen sistem informasi yang bertanggung jawab untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi, memproses, serta menyediakan informasi dalam format tepat yang akan dipergunakan dalam proses pengambilan keputusan.

Proses mengidentifikasi, berarti sistem harus dapat menentukan masalah yang dihadapi perusahaan, keputusan yang akan dibuat oleh oleh para pengambil keputusan dan informasi apa yang harius disediakan untuk memecahkan masalah tersebut. Proses ini harus dapat menentukan data yang dibutuhkan, dimana, bagaimana, dan dengan metode apa data tersebut diperoleh serta bagaimana menentukan proses dan metode yang paling tepat yang akan dipergunakan dan berapa lama proses harus diselesaikan.

  1. 2. Apa urgensi maintability dari suatu software. Jelaskan ?

Jawaban :

Software memerlukan pemeliharaan, menurut Sachs (1999) bahkan dari keseluruhan fase kehidupan suatu software, pemeliharaan membutuhkan  biaya terbanyak sampai dengan sebesar 67%  dari keseluruhan fase.

Adapun pengertian maintability menurut IEEE (Standard Glossary of Software Engineering Terminology) adalah kemampuan suatu software atau komponen untuk dimodifikasi untuk mengoreksi kesalahan, meningkatkan kinerja atau atribute lain; atau beradaptasi terhadap lingkungan yang berubah. Sedangkan menurut Grubb dan Takang (2003) maintability adalah kemudahan untuk melakukan pemeliharaan suatu software.

Pada saat  software diserahkan oleh pengembangnya, tidak berarti prosesnya telah selesai dan berhenti disitu; karena semua  software yang sukses selalu berubah mengikuti waktu untuk selalu memenuhi kebutuhan dari pemakainya. Itulah sebabnya software maintability sangatlah penting. Pada proses software maintenance, software mengalami beberapa perubahan untuk memperbaiki  bugs,  penambahan fungsi baru,  penyambungan software ke platforms baru, atau untuk mengadaptasi   software tersebut terhadap teknologi baru.

Untuk Manajemen Resiko yang Efektif, maka pemeliharaan system harus menjadi bagian dari pengembangan suatu software atau juga bagian dari SDLF (System Development Live Cycle); yang mempunyai 5 tahap: inisiasi, pengembangan, penerapan, operasi atau pemeliharaan dan pemberhentian.

Oleh karena itu membuat dan mendesain software yang mudah dipelihara akan sangat mengurangi  biaya pemeliharaan.  Software maintenance diperlukan karena:

  • Menjaga keberlanjutan pemakaian system, misalnya: system untuk perjalanan kereta api, tidak boleh dihentikan bila ada error pada sistem.
  • Untuk mendukung mandatory upgrades, misalnya ada perubahan pada peraturan pemerintah, perubahan tarif pajak.
  • Untuk memenuhi permintaan dari user, misal perubahan penampilan, penambahan fungsi, dan lain sebagainya.
  • Untuk memfasilitasi kebutuhan maintenance di masa mendatang agar biayanya tidak terlalu mahal, segala sesuatunya dipersiapkan dari sekarang, misalnya; coding, database restructuring.
  1. Apa yang saudara ketahui tentang ERP (enterprise resource planning) dan bagaimana implementasi system yang berbasiskan ERP. Jelaskan!

Jawaban :

Sistem ERP adalah sebuah terminologi yang secara de facto adalah aplikasi yang dapat mendukung transaksi atau operasi sehari-hari yang berhubungan dengan pengelolaan sumber daya sebuah perusahaan, seperti dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu, material dan kapasitas.
Sistem ERP dibagi atas beberapa sub-sistem yaitu sistem Financial, sistem
Distribusi, sistem Manufaktur, sistem Maintenance dan sistem Human Resource.

Untuk mengetahui bagaimana sistem ERP dapat membantu sistem operasi bisnis kita, contoh kasus yang dapat dipelajari adalah: Apabila suatu perusahaan  menerima order untuk 100 unit Produk A. Maka sistem ERP tersebut akan
membantu kita menghitung berapa yang dapat diproduksi berdasarkan segala
keterbatasan sumber daya yang ada pada kita saat ini. Apabila sumber daya
tersebut tidak mencukupi, sistem ERP dapat menghitung berapa lagi sumberdaya
yang diperlukan, sekaligus membantu kita dalam proses pengadaannya. Ketika
hendak mendistribusikan hasil produksi, sistem ERP juga dapat menentukan
cara pemuatan dan pengangkutan yang optimal kepada tujuan yang ditentukan
pelanggan. Dalam proses ini, tentunya segala aspek yang berhubungan dengan
keuangan akan tercatat dalam sistem ERP tersebut termasuk menghitung berapa
biaya produksi dari 100 unit tersebut.

Dapat kita lihat bahwa data atau transaksi yang dicatat pada satu fungsi/bagian sering digunakan oleh fungsi/bagian yang lain. Misalnya daftar
produk bisa dipakai oleh bagian pembelian, bagian persediaan, bagian
produksi, bagian gudang, bagian pengangkutan, bagian keuangan dan
sebagainya.

Pada prinsipnya, dengan sistem ERP sebuah industri dapat dijalankan secara optimal dan dapat mengurangi biaya-biaya operasional yang tidak efisien
seperti biaya inventory (slow moving part, dan lain lain), biaya kerugian akibat
‘machine fault’.

Dinegara-negara maju yang sudah didukung oleh infrastruktur yang memadaipun, mereka sudah dapat menerapkan konsep JIT (Just-In-Time). Di sini, segala sumberdaya untuk produksi benar-benar disediakan hanya pada saat diperlukan (fast moving).Termasuk juga penyedian suku cadang untuk maintenance, jadwal perbaikan (service) untuk mencegah terjadinya machine fault, inventory, dan sebagainya.

Bagi industri yang memerlukan efisiensi dan komputerisasi dari segi
penjualan, maka ada tambahan bagi konsep ERP yang bernama Sales Force
Automation (SFA). Sistem ini merupakan suatu bagian penting dari suatu rantai pengadaan (Supply Chain) ERP. Pada dasarnya, Sales yang dilengkapi dengan SFA dapat bekerja lebih efisien karena semua informasi mengenai suatu pelanggan atau produk yang dipasarkan ada di databasenya.

Khusus untuk industri yang bersifat assemble-to-order atau make-to-order
seperti industri pesawat, perkapalan, automobil, truk dan industri berat
lainnya, sistem ERP dapat juga dilengkapi dengan Sales Configuration System
(SCS). Dengan SCS, Sales dapat memberikan penawaran serta proposal yang
dilengkapi dengan gambar, spesifikasi, harga berdasarkan keinginan/pesanan
pelanggan. Misalnya saja seorang calon pelanggan menelpon untuk mendapatkan
tawaran sebuah mobil dengan berbagai kombinasi yang mencakup warna biru,
roda racing, mesin V6 dengan spoiler sport dan lain-lain. Dengan SCS, Sales
dapat menberikan harga mobil dengan kombinasi tersebut pada saat itu juga.

Sistem ERP dirancang berdasarkan proses bisnis yang dianggap ‘best practice’ proses umum yang paling layak di tiru. Misalnya, bagaimana proses umum yang sebenarnya berlaku untuk pembelian (purchasing), penyusunan stok di gudang dan sebagainya.

Untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari sistem ERP, maka industri kita juga haurs mengikuti ‘best practice process’ (proses umum
terbaik) yang berlaku. Disini banyak timbul masalah dan tantangan bagi
industri kita di Indonesia. Tantangannya misalnya, bagaimana merubah proses
kerja kita menjadi sesuai dengan proses kerja yang dihendaki oleh sistem
ERP, atau, merubah sistem ERP untuk menyesuaikan proses kerja kita.

Proses penyesuaian itu sering disebut sebagai proses Implementasi. Jika
dalam kegiatan implementasi diperlukan perubahan proses kerja yang cukup
mendasar, maka perusahaan ini harus melakukan Business Process Reengineering
(BPR) yang dapat memakan waktu berbulan bulan.

Sebagai kesimpulan, sistem ERP adalah paket software yang sangat dibutuhkan untuk mengelola sebuah industri secara efisien dan produktif. Secara de facto, sistem ERP harus menyentuh segala aspek sumber daya perusahaan yaitu
dana, manusia, waktu, material dan kapasitas. Untuk lebih meningkatkan kemapuan Sistem ERP perlu ditambah  modul CRM, SRM, PLM dan juga Project Management.
Karena sistem ERP dirancang dengan suatu proses kerja ‘best practice’,
maka hal ini merupakan tantangan implementor ERP untuk melakukan implementasi sistem ERP di suatu perusahaan.

Sumber :

Grubb, Penny. Takang, Armstrong A. 2003. Software Maintenance, concepts and practice. 2nd Edition. World Scientific Publishing. US.

Land, Rikard. Measurement of Software Maintability. Malardalen University. Sweden.

Schach, R. 1999, Software Engineering, Fourth Edition. McGraw-Hill. Boston,      MA.

http://courses.cs.vt.edu/csonline/SE/Lessons/LifeCycle/Lesson.html

http://www.artes.uu.se/events/gsconf02/papers/Land_Maintainability.pdf

http://www.erpweaver.com/index.php?option=com_content&task=view&id=19&Itemid=27

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.